IKHLAS

Oleh : Kholil Misbach
Dikisahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, bahwa ketika Allah menciptakan bumi, planet kita ini bergetar, lalu Allah menciptakan gunung dengan kekuatan yang diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat akhirnya kagum akan penciptaan gunung tersebut.
Malaikat bertanya, ''Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada gunung?''

Allah menjawab, ''Ada, yaitu besi.''
Malaikat bertanya lagi, ''Ya Allah adakah yang lebih kuat dari besi?''
Allah menjawab, ''Ada, yaitu api, besi dapat meleleh kalau dipanaskan.''
Para malaikat bertanya lagi, ''Adakah yang lebih kuat daripada api?'' Allah menjawab, ''Ada, yaitu air, api akan padam kalau disiram air.''
Malaikat bertanya lagi, ''Ya Allah adakah penciptaan Engkau yang lebih hebat daripada air?''

Allah menjawab, ''Ada, yaitu angin, angin dapat membawa awan dalam perjalanan yang amat jauh, bahkan badai juga dapat menyebabkan ombak besar yang mampu merobohkan rumah-rumah di pantai.''
Para malaikat bertanya lagi, ''Ya Allah adakah yang lebih kuat dari semua ini?''

Allah menjawab, ''Ada yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah, tangan kanannya memberi sedangkan tangan kirinya tidak mengetahui.'' Ikhlas dalam bersedekah tanpa pamer dan dipuji ternyata lebih dahsyat daripada gunung, besi, air, dan angin. Empat komponen itu adalah vital bagi bumi. Dan, sebuah tatanan masyarakat akan kokoh dan maju jika setiap elemen masyarakat mempunyai rasa ikhlas yang kuatnya melebihi keempat elemen di atas.
Walau seseorang berbuat amal kebajikan hingga seluruh tenaga dan pikiran terkuras, namun kalau tidak diiringi dengan hati yang tulus dan niat yang ikhlas, maka perbuatannya akan sia-sia belaka di mata Allah. Ibadah yang tidak ikhlas akan membawa pelakunya ke jurang neraka, karena didasarkan rasa riya (berpamrih) atau alasan selain karena Allah.

Orang yang ikhlas dengan sendirinya akan bermanfaat bagi lingkungannya. Ia selalu memberi tanpa meminta balasan. Ia mengulurkan bantuan tanpa diminta. Bahkan, perbuatan tidak menyenangkan hatinya pun ia balas dengan senyuman dan sapaan mulia.
Sifat ikhlas inilah yang akan memacu dan memicu lahirnya generasi unggulan yang siap bersaing di tatanan dunia global. Karena, hanya pribadi yang ikhlaslah yang sebenarnya paling berhak untuk mendapatkan tanda jasa dan penghargaan dari masyarakat, tanpa dia meminta atau mengharapkan. Wallahu a'lam.

Keutamaan Jujur

oleh: Kholil Misbach

Jujur merupakan sikap terpuji yang dianjurkan oleh agama, ia selalu bersanding dengan kebenaran yang harus dikawal dan ditegakkan, bahkan Allah SWT menyebut diri-Nya dengan Al-Haq yang artinya Mahabenar.


Begitu juga para nabi dan Rasul-Nya selalu mempunyai sifat Ash-Shidq yang berarti jujur.Jujur mempunyai banyak manfaat dan khasiat bagi pelakunya baik di dunia maupun di akhirat. Setidaknya ada enam manfaat bagi orang yang jujur dalam perkataan maupun perbuatannya.

Pertama, perasaan enak dan hati tenang, jujur akan membuat pelakunya menjadi tenang karena ia tidak takut akan diketahui kebohongannya. Baginda Rasul SAW bersabda, ”Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju perkara yang tidak meragukanmu, sesungguhnya jujur adalah ketenangan sedangkan dusta adalah keraguan.” (HR Turmudzi dari riwayat Hasan bin Ali).

Kedua, mendapatkan keberkahan dalam usahanya. Rasulullah SAW bersabda, ”Dua orang yang berjual beli mempunyai pilihan (untuk melanjutkan transaksi ataupun membatalkannya) selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan barangnya maka akan diberkahi jual beli mereka, dan jika mereka merahasiakan dan berdusta maka dihilangkan keberkahan jual beli mereka.” (HR Bukhari)

Ketiga, mendapat pahala seperti pahala orang syahid di jalan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa meminta mati syahid dengan jujur, maka Allah akan mengantarkannya ke dalam golongan orang-orang syahid, walaupun ia mati di atas kasurnya.” (HR Muslim) .

Keempat, selamat dari bahaya. Orang yang jujur walaupun pertama-tama ia merasa berat akan tetapi pada akhirnya ia akan selamat dari berbagai bahaya. Rasulullah SAW telah bersabda, ”Berperangailah selalu dengan kejujuran! Jika engkau melihatnya jujur itu mencelakakan maka pada hakikatnya ia merupakan keselamatan.” (HR Ibnu Abi Ad-Dunya dari riwayat Manshur bin Mu’tamir).

Kelima, dijamin masuk surga, sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW, ”Berikanlah kepadaku enam perkara niscaya aku akan jamin engkau masuk surga: jujurlah jika engkau bicara, tepatilah jika engkau berjanji, tunaikanlah jika engkau diberi amanat, jagalah kemaluanmu, tundukkan pandanganmu, dan jagalah tanganmu.” (HR Ahmad dari riwayat ‘Ubadah bin Ash-Shamit).

Keenam, dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW bersabda, ”Jika engkau ingin dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tunaikanlah jika engkau diberi amanah, jujurlah jika engkau bicara, dan berbuat baiklah terhadap orang sekelilingmu.” (HR Ath-Thabrani). Demikianlah, jujur penting sekali, terutama di masa ketika segala aspek kehidupan dipenuhi kepalsuan dan dusta. Di manapun berada, kejujuran harus di atas segalanya. Jujur adalah simbol profesionalisme kerja dan inti dari kebaikan hati nurani seseorang.

Kholil Misbach Lc

WUDHU DAN EFISIENSI

Kholil Misbach



Suatu saat Rasulullah SAW menemui sahabat Sa’ad yang sedang berwudhu. Ia berwudhu dengan banyak menggunakan air. Melihat hal ini Rasulullah SAW menegurnya. “ Mengapa engkau berbuat boros, wahai Sa’ad?”



Sa’ad menjawab, “Apakah dalam air juga ada pemborosan?”



“Ya, walaupun engkau berada di sungai maupun lautan,” jawab Nabi SAW (HR Ahmad dan Ibn Majah dari hadis Ibnu Umar).



Rasulullah SAW melarang umatnya berbuat boros dalam segala hal, kendatipun itu untuk keperluan berwudhu. Meski, Rasulullah SAW tetap menyuruh umatnya untuk berwudhu secara sempurna.



Hal ini menunjukkan bahwa beliau sangat menganjurkan umatnya untuk efisien dalam hal apapun, “Sebaik baik perkara adalah pertengahannya,” begitulah sabda Nabi SAW yang telah menjadi teladan dan panutan bagi umatnya.



Hampir semua kebajikan berada di tengan dua perangkap setan, yaitu berlebihan dan kekurangan. Ini dapat dicontohkan dari sifat pemaaf, antara maaf dan pengecut; sifat dermawan; antara berlebihan dan kikir; dan efisiensi, antara boros dan kekurangan.



Sebuah perusahaan akan kolaps kalau tidak melakukan efisiensi penggunaan dana. Sebuah organisasi akan bubar kalau tidak memperhatikan efisiensi dalam pengaturan anggotanya. Begitu pula dengan pribadi manusia, ia akan merana dan tidak dapat berkembang kalau tidak menerapkan prinsip efisiensi dalam dirinya.



Karena efisiensi jelas akan menghemat segala sesuatu, sehingga dapat digunakan untuki kebaikan orang lain. Sisa dana hasil efisiensi akan termanfaatkan, karenanya tak ada penghamburan harta di atas penderitaan orang lain. Akhirnya, ia tidak kikir terhadap dirinya maupun orang lain.



Allah SWT memuji orang-orang yang tidak boros dan tidak kikir. “Dan orang-orang yang jika berinfak tidak boros dan tidak kikir, dan ia menempuh jalan di antara keduanya.” (QS Al Furqan[25]:67).



Dalam tafsir al-Qurthubi disebutkan bahwa An-Nahhas telah berkata, “Sebaik-baik penafsiran dalam ayat ini adalah barang siapa menggunakan hartanya tidak dalam ketaatan, maka termasuk berbuat boros (israf); dan barang siapa tidak menyumbang dalam ketaatan, maka ia termasuk berbuat kikir. Dan barangsiapa menggunakan hartanya untuk ketaatan itulah yang paling benar (qawam).” Dengan efisiensi di berbagai hal secara nasional, maka bangsa Indonesia akan mampu berdiri dengan kekuatan sendiri. Kalau dengan tenaga dan kekuatan sendiri saja sudah mampu dan kuat, mengapa harus menggantungkan diri pada bangsa lain?

Mulailah yang terdekat

oleh: Kholil Misbach, Lc

Manusia sering berangan-angan tinggi hingga ingin menaklukkan planet-planet lain.
bahkan ada manusia yang mengaku tuhan dan ingin mengalahkan Allah. Itulah manusia, hidupnya hanya sementara
sedangkan keinginannya tiada batasnya, dan selama manusia hidup selama itu pula
ia punya impian dan obsesi tinggi.

Mulailah dari yang terkecil dan terdekat, karena dari situ segala keinginan besar akan terwujud. tentukanlah kemana akan melangkah.
Baginda Nabi saw telah menganjurkan agar seseorang berbuat baik kepada orang yang paling dekat, yaitu anak, keluarga, dan kerabat.
"Mulailah dengan orang yang kamu tanggung, dan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah (HR. Muslim)

Memang, sebuah gunung yang tinggi tidak akan mampu kita daki sampai puncak tanpa melewati jalan setapak, kita juga tidak bisa loncat ke
lantai paling atas gedung pencakar langit tanpa melalui dari bawah dulu. ini membuktikan bahwa kita mesti mulai dari kecil, tidak apa-apa anda sekarang
menjadi kacung orang, pembantu orang, menjadi buruh kecil gak apa-apa, yang penting jangan jadikan usaha kecil itu sebagai nihayatul mathaf atau akhir dari perjalanan karir anda.

kita boleh jadi orang kecil cuma kita harus selalu berusaha merubah nasib yang lebih baik.

Doa dan Cita-cita

oleh: Kholil Misbach, LC


Doa adalah intinya ibadah, begitulah arti cuplikan hadits Nabi saw. tidak ada satu ibadahpun kecuali di dalamnya ada doa. Doa sendiri menurut penulis merupakan simbol akan cita-cita orang yang berdoa, orang meminta kekayaan berarti ia bercita-cita menjadi orang kaya.
Sebaik-baik doa adalah sesuai dengan Al Qur'an dan As Sunnah, untuk itulah tidak ada cita-cita tertinggi kecuali sesuai dengan doa-doa yang diajarkan Rasul saw. Adakah cita-cita yang melebihi akan kebaikan dunia dan akhirat sebagaimana doa Rabbana Atina fid Dunya Hasanah wafil Akhirati Hasanah.
Seseorang yang mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhiratnya kemudian dijauhkan dari neraka itulah sebenar-benar orang yang mendapat untung dan orang yang sudah mencapai cita-citanya.

Dengan doa manusia mempunyai pegangan hidup karena ia tahu kelemahan dirinya, dan orang yang berdoa juga tahu bahwa di sana ada Allah Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana.
walaupun demikian banyak sekali manusia yang lalai dan enggan berdoa kepada ALlah. mungkin karena kesibukan manusia akan urusan pribaadi dan dunianya sehingga ia lupa akan berdoa ini.

Untuk dikabulkannya doa,orang yang berdoa harus memenuhi syarat terutama terjaganya makanan dan minuman dari hal-hal yang haram dan menjaga kebersihan baik lahir maupun batin, kemudian doa tanpa usaha adalah pasrah nasib yang keliru dan menyalahi perintah ALlah, kalau hanya berdoa sudah cukup maka tentunya baginda Nabi saw tidak capek-capek berperang dan berusaha karena doa beliau paling makbul di antara para makhluk Allah. Wallahu A'lam

MENJADI KUNANG-KUNANG

oleh:Kholil Misbach, LC

Kunang-kunang sangat akrab dengan kita di malam hari, sungguh ia merupakan binatang yang bisa menyinari dirinya sendiri jadi bagaikan lampu yang tanpa bahan bakar.

Menurut saya manusia kalau bisa menjadi matahari, kalau nggak bisa menjadi lampu, dan kalau nggak bisa menjadi kunang-kunang. Manusia yang menjadi matahari adalah manusia yang mampu menyinari masyarakat banyak, ia menjadi teladan masyarakat.

Adapun manusia yang menjadi lampu adalah manusia yang mampu menyinari keluargnya, adapun menjadi kunang-kunang adalah manusia yang menyinari dirinya sendiri.


Jangan sampai manusia menjadi kurang dari kunang-kunang, karena ia akan merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Wallahu A'lam




DENGAN TEKNOLOGI STUDY BANDING TAK HARUS KE LUAR NEGERI



oleh: Kholil Misbach, Lc

AKhir-akhir ini banyak sekali pejabat yang ngotot sekali hendak pergi ke luar negeri banyak alasan mereka ke luar negeri ini di antaranya adalah study bandaing.
lalu apakah studi banding musti ke Luar negeri? Ternyata jawabnya tidak. Kunjungan ke luar negeri itu perlu ketika kunjungan itu sangat diperlukan dan tidak ada
alternatif lain selain harus ke luar negeri. Seperti ketika ada pertemuan internasional yang mengharuskan datang maka kedatangan ini menjadi hal yang perlu.

Adapun untuk study banding, dengan adanya teknologi informasi, akses informasi sangat mudah didapat. Belum lagi adanya intelejen negara yang bisa memetakan keadaan sebuah
negara.

Pemborosan uang negara perlu diperkecil sedemikian rupa bahkan kalau bisa dihilangkan hingga tidak ada satupun orang miskin di negara ini.

Sudah saatnya pejabat lebih memikirkan rakyat, dan untuk memikirkan mereka tidaklah harus ngelencer ke luar negeri kecuali itu sebuah keharusan.