BERMAKMUM DENGAN ORANG YANG BUKAN MADZHABNYA

BERMAKMUM DENGAN ORANG YANG BUKAN MADZHABNYA
Oleh Kholil Misbach, Lc

Bolehkah seseorang bermakmum dengan orang yang bukan madzhabnya? Seperti seorang Syafii bermakmum dengan orang yang bermadzhab Maliki, atau Hambali ataupun Hanafi dan sebaliknya.

Dalam masalah ini para ulama fikih berbeda pendapat.

Dalam Madzhab Syafii yang paling ashah –paling kuat- sebagaimana disebutkan dalam kitab Al Majmu' kar ya imam Nawawi bahwa seorang makmum apabila mengetahui bahwa imam meninggalkan hal-hal yang dianggap makmum sebagai syarat sahnya shalat maka tidak sah bagi makmum untuk mengikutinya, jika ia tidak mengetahui atau ragu apakah imam meninggalkan syarat sahnya shalat tersebut maka ia sah bermakmum dengannya.

Ada juga ulama madzhab Syafii yang memperbolehkan bermakmum dengan imam madzhab lain walaupun menurut makmum membatalkan shalat. Pendapat ini diusung oleh Muhammad bin Al Qaffal karena menganggap yang dijadikan patokan adalah keyakinan imam bukan keyakinan makmum.

Contoh kasus jikalau seorang syafii melihat imam dari madzhab hanafi telah menyentuh perempuan atau meninggalkan thomakninah dalam shalat maka menurut pendapat jumhur syafii tidak sah berjamaah dengannya. Adapun menurut imam Muhammad bin al Qaffal maka boleh mengikutinya.

Begitu juga jikalau seorang Syafii melihat imamnya yang bermadzhab Maliki telah berwudlu dengan air bekas untuk wudu atau mandi atau disebut dengan air mesta'mal maka menurut jumhur madzhab Syafii tidak sah jika ia bermakmum dengannya adapun menurut Al Qaffal hal itu sah-sah saja asal si imam yakin bahwa perbuatannya itu benar menurut madzhabnya.



Menurut madzhab Hanafi

Yang paling kuat dalam madzhab Hanafi bahwa jika seorang Hanafi melihat dari imam yang bermadzhab Syafii misalnya telah meninggalkan syarat atau rukun shalat menurut madzhab Hanafi maka tidak sah ia bermakmum dengannya.
Berkata syekh Asy Syaranbalawi dalam menyarahi kitab Ad Dur mengatakan bermakmum dengan orang yang bukan madzhab jikalau ia menjaga syarat dan rukunnya shalat maka sah bermakmum dengannya, hukumnya makruh, jika imam tidak menjaga rukun dan syarat shalat maka tidak sah.

Ada juga ulama madzhab Hanafi seperti Abu Bakar ar Razi berpendapat akan bolehnya bermakmum dengan orang yang bukan madzhabnya, walaupun menurut sang makmum sang imam sudah batal dalam shalatnya, pendapat imam ar Razi ini juga didukung oleh Abdul Adzim bin Farukh.

Menurut madzhab Maliki

Dalam madzhab Maliki bahwa bermakmum dengan imam yang berbeda madzhab yang menurut makmum shalatnya tidak sah seperti meninggalkan menggosok dalam wudlu ataupun meninggalkan membasuh kepala semuanya maka ia boleh mengikutinya. Berkata syekh Kholil dalam kitabnya boleh mengikuti imam yang berbeda madzhab dalam hal furu' walaupun sang imam meninggalkan syarat sahnya shalat seperti berwudlu dengan membasuh sebagian kepala.


Menurut madzhab Hambali

Menurut madzhab Hambali boleh bermakmum dengan imam yang berbeda madzhab dalam hal furu'iah. Imam Ahmad menganggap bahwa orang yang berbekam wajib berwudlu, lalu dikatakan kepadanya jika imam hendak mengimami padahal ia habis berbekam dan tidak berwudlu lagi apakah kita shalat di belakangnya? Imam Ahmad mengatakan bagaimana kita tidak shalat di belakang Said ibnu al Musayyab dan imam Malik.

Itulah sebagian pendapat ulama tentang bermakmum kepada imam yang berlainan madzhab, penulis sendiri berpendapat bolehnya bermakmum dengan orang yang berlainan madzhab, karena semua madzhab tersebut mempunyai dalil-dalil yang kuat dari Al Quran dan sunnah, alangkah baiknya kita mengatakan seperti perkataan imam Ahmad, bagaimana kita tidak shalat dengan imam Malik, Said ibnu Musayyab.

Cabang dari masalah ini bisa kita terapkan dalam hal Qunut dalam shalat dan lain sebagainya, Wallahu A'lam.

[+/-] Baca Selengkapnya...

Poto dari negeri Ghana










[+/-] Baca Selengkapnya...

syukur dan sabar

Allah ta'ala berfirman

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ كَلَّا

"Adapun manusia, apabila Rabbnya menimpakan ujian kepadanya dengan memuliakan dan mencurahkan nikmat kepadanya maka dia mengatakan, 'Rabbku telah memuliakanku'. Dan apabila Dia mengujinya dengan membatasi rezkinya niscaya dia akan mengatakan, 'Rabbku telah menghinakanku'. Sekali-kali bukan demikian…" (QS. al-Fajr :15-17)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan

أي ليس كل من أكرمته في الدنيا ونعمته فيها فقد أنعمت عليه وإنما كان ذلك ابتلاء مني له واختبارا، ولا كل من قدرت عليه رزقه فجعلته بقدر حاجته من غير فضلة أكون قد أهنته، بل أبتلي عبدي بالنعم كما أبتليه بالمصائب.

"Maknanya adalah: Tidaklah setiap orang yang Aku (Allah) berikan kemuliaan di dunia dan Kuberikan kenikmatan dunia kepadanya maka itu berarti Aku benar-benar mengaruniakan nikmat yang hakiki kepadanya. Karena sesungguhnya hal itu merupakan cobaan dari-Ku kepadanya sekaligus sebagai ujian untuknya. Dan tidak pula setiap orang yang Aku batasi rezkinya sehingga Aku jadikan rezkinya sebatas apa yang diperlukannya saja tanpa ada kelebihan maka itu artinya Aku sedang menghinakan dirinya. Namun, sesungguhnya Aku sedang menguji hamba-Ku dengan nikmat-nikmat sebagaimana halnya Aku ingin menguji dirinya dengan berbagai bentuk musibah." (Ijtima' al-Juyusy al-Islamiyah, hal. 8. Islamspirit.com)

Ikhwah sekalian, semoga Allah menganugerahkan kepada kita kesabaran ketika tertimpa musibah dan ketulusan dalam bersyukur ketika mendapat curahan nikmat. Inilah isi kehidupan dunia yang kita jalani sehari-hari… Sehat dan sakit, lapang dan sempit, mudah dan sulit, semuanya adalah cobaan dari Rabbul 'alamin kepada hamba-hamba-Nya agar menjadi hamba yang sejati bagaimana pun keadaan yang dialaminya.

Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam Madarij as-Salikin (hal. 152) menjelaskan bahwa iman itu terdiri dari dua bagian, satu bagian sabar dan satu bagian yang lain adalah syukur. Beliau juga mengatakan (hal 155) bahwa sabar bagi iman laksana kepala bagi tubuh seorang insan. Tidak ada iman pada diri orang yang tidak memiliki kesabaran, sebagaimana halnya tidak ada jasad yang berfungsi apabila tidak ada kepalanya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin al-Khatthab radhiyallahu'anhu, beliau mengatakan, "Penghidupan yang terbaik itu sesungguhnya kami peroleh dengan modal kesabaran."

Demikian pula syukur, ia merupakan bukti keseriusan seorang hamba dalam mengabdi dan tunduk kepada Rabbnya. Allah ta'ala berfirman,

وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

"Dan bersyukurlah kepada Allah jika kalian benar-benar beribadah hanya kepada-Nya." (QS. al-Baqarah ; 172)

Allah menciptakan pendengaran, penglihatan, dan hati adalah untuk kita syukuri. Allah ta'ala berfirman,

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan kalian tidak mengetahui apa-apa, dan Allah menciptakan untuk kalian pendengaran, penglihatan, dan hati mudah-mudahan kalian bersyukur (kepada-Nya)." (QS. an-Nahl : 78).

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :

حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْدِيُّ وَشَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ جَمِيعًا عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ وَاللَّفْظُ لِشَيْبَانَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Haddab bin Khalid al-Azdi dan Syaiban bin Farrukh menuturkan kepada kami, semuanya dari jalan Sulaiman bin al-Mughirah, sedangkan lafaznya adalah milik Syaiban. Mereka berkata: Sulaiman menuturkan kepada kami. Dia berkata: Tsabit menuturkan kepada kami dari Abdurrahman bin Abi Laila dari Shuhaib radhiyallahu'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya." (HR. Muslim dalam kitab az-Zuhd wa ar-Raqa'iq)

Ikhwah sekalian, untuk bisa menjadi hamba yang rajin bersyukur seorang hamba senantiasa membutuhkan taufik dan pertolongan Allah ta'ala. Demikian pula untuk menjadi seorang penyabar, maka Allah ta'ala adalah satu-satunya tempat kita bergantung dan mengharap pertolongan. Allah ta'ala berfirman,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ

"Bersabarlah, dan tidaklah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan dari Allah." (QS. an-Nahl : 127)

Imam Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan di dalam Sunannya :

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ مَيْسَرَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ قَالَ سَمِعْتُ عُقْبَةَ بْنَ مُسْلِمٍ يَقُولُ حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيُّ عَنْ الصُّنَابِحِيِّ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ وَأَوْصَى بِذَلِكَ مُعَاذٌ الصُّنَابِحِيَّ وَأَوْصَى بِهِ الصُّنَابِحِيُّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ

'Ubaidullah bin Umar bin Maisarah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdullah bin Yazid al-Muqri' menuturkan kepada kami. Dia berkata; Haiwah bin Syuraih menuturkan kepada kami. Dia berkata; Aku mendengar 'Uqbah bin Muslim mengatakan; Abu Abdirrahman al-Hubuli menuturkan kepadaku dari as-Shunabihi dari Mu'adz bin Jabal -radhiyallahu'anhu- bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang tangannya seraya mengucapkan, "Hai Mu'adz, demi Allah sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu. Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu." Lalu beliau bersabda, "Aku wasiatkan kepadamu hai Mu'adz, jangan kamu tinggalkan bacaan setiap kali di akhir sholat hendaknya kamu berdoa, 'Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik' (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu)." Maka Mu'adz pun juga mewasiatkan hal itu kepada as-Shunabihi. Demikian juga as-Shunabihi mewasiatkan hal serupa kepada Abu Abdirrahman (HR. Abu Dawud, disahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Semoga Allah ta'ala memberikan taufik kepada kita untuk sabar dan syukur. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil 'alamin.


[+/-] Baca Selengkapnya...

JANGAN PUTUS ASA

kholil Misbach, Lc

Sesungguhnya tidak ada yang putus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang Kafir. (Qs.Yusuf 87)

 

Memang tidak semua keinginan manusia tercapai secara keseluruhan, semakin banyak keinginan semakin besar kemungkinan ia dapat dan semakin besar ia gagal. ayat diatas menunjukkan kepada umat manusia untuk tidak putus asa.

Keputus-asaan hanya menyebabkan kesedihan pada si empunya. Bahkan akan dapat membunuh karakter diri sendiri. Lihatlah sikap nabi Ibrahim, walaupun ia sudah tua tetapi tidak putus asa untuk memiliki anak, hingga Allah memberikan karunia tersebut disaat ia tua. begitu juga dengan nabi Zakaria, ia mendambakan anak ketika tua, hingga Allah memberikan rahmat kepadanya dengan mengaruniakannya Yahya.

Cobaan tidak harus berupa kesusahan, kemudahan dan kesenanganpun merupakan jenis cobaan, semuanya kembali kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:

"Setiap berjiwa merasakan kematian, dan Kami coba kamu sekalian dengan kesusahan dan kebaikan, Dan kepada kamilah kalian kembali (QS.al Anbiya`35)

 

Segala bencana dan kejadian di dunia semua sudah tertulis dalam keputusan Allah, manusia hanya bisa berusaha berbuat dan mencari yang terbaik. Kalau manusia mampu dan lulus dalam cobaan derajatnya akan semakin tinggi. Betapa banyak Negara-negara yang hampir hancur kemudian bangkit dan menjadi besar. Negara tersebut menjadi besar karena mengambil pelajaran dari masa lalu dan bangkit kembali dengan semangat tinggi.

 

Hidup ini memang tidak untuk berpesta maupun meratap, akan tetapi hidup ini adalah untuk mengukir prestasi di dunia sebaik mungkin. tidak ada satu tim besarpun yang tidak pernah kalah, akan tetapi tim besar ini selalu menjadikan kekalahan sebagai ajang evaluasi dan berbuat baik di masa berikutnya. Wallahu a'lam


[+/-] Baca Selengkapnya...

I sent a car to you

I sent a car to you Check it out!

This email was sent by using the Application: Daily Car. You can stop receiving emails here.
- , ,

[+/-] Baca Selengkapnya...

Puasa dan Penyakit gula

Puasa dan Penyakit gula
 
 
Ternyata Puasa sangat bagus untuk mencegah dan mengobati penyakit gula.
Penyakit gula atau penyakit Diabetes atau lebih lengkapnya Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit degeneratif yang memerlukan upaya penanganan yang tepat dan serius. Orang-orang biasanya menyebutnya dengan penyakit gula.

Diabetes Mellitus itu didefinisikan sebagai penyakit dimana tubuh penderita tidak bisa secara otomatis mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam darahnya. Penderita diabetes tidak bisa memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup, sehingga terjadi kelebihan gula di dalam tubuh. Kelebihan gula yang kronis di dalam darah (hiperglikemia) ini menjadi racun bagi tubuh.

Tipe Diabetes
1. Diabetes Tipe I (IDDM/ tergantung insulin)
Seseorang dikatakan Diabetes tipe I, jika tubuh perlu pasokan insulin dari luar. Hal ini disebabkan karena sel-sel beta dari pulau-pulau Langerhans telah mengalami kerusakan, sehingga pancreas berhenti memproduksi insulin. Kerusakan sel beta tersebut dapat terjadi sejak kecil ataupun setelah dewasa.

2. Diabetes Tipe II (NIDDM/ tidak tergantung insulin)
Diabetes tipe II terjadi jika insulin hasil produksi pancreas tidak cukup atau sel lemak dan otot tubuh menjadi kebal terhadap insulin, sehingga terjadi gangguan pengiriman gula ke sel tubuh. Biasanya orang yang terkena penyakit diabetes tipe ini yaitu orang dewasa.

Gejala – Gejala Diabetes
Diabetes tipe I muncul secara tiba-tiba pada saat usia anak-anak (di bawah 20 tahun), sebagai akibat dari adanya kelainan genetika, sehingga tubuh tidak dapat memproduksi insulin dengan baik. Gejala untuk diabetes tipe I, antara lain :
• Berat badan menurun
• Kelelahan
• Penglihatan kabur
• Sering buang air kecil
• Terus menerus lapar dan haus
• Meningkatnya kadar gula dalam darah dan air seni

Sedang untuk gejala-gejala diabetes tipe II muncul secara perlahan-lahan sampai menjadi gangguan yang jelas, dan pada tahap permulaannya sama seperti gejala diabetes tipe I.

Penyebab Diabetes
Penyebab utama diabetes di era globalisasi adalah adanya perubahan gaya hidup (pola makan yang tidak seimbang, kurang aktivitas fisik). Selain itu, adanya stress, kelainan genetika, usia yang semakin lama semakin tua dapat pula menjadi salah satu faktor penyebab timbulnya penyakit diabetes.

Pencegahan Diabetes
Penyakit diabetes dapat dicegah dengan merubah pola makan yang seimbang (hindari makanan yang banyak mengandung protein, lemak, gula, dan garam), melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari (berenang, bersepeda, jogging, jalan cepat), serta rajin memeriksakan kadar gula urine setiap tahun.

Cara Mengatasi Diabetes
Jika sudah positif menderita diabetes, maka sebaiknya konsultasikan dengan dokter dan ikuti anjuran dokter dengan penuh disiplin. Selain itu, perlu melakukan diet, karena diet merupakan langkah awal dari usaha untuk mengendalikan diabetes. Namun, sebaiknya ketika melakukan diet, perlu juga dibarengi dengan olah raga secara teratur. Dan terakhir, pemeriksaan darah untuk mengukur kadar gula Diabetes, yang merupakan suatu gangguan kelainan kadar gula darah karena rusaknya sel beta pancreas, sehingga perlu dikontrol dengan cermat.

[+/-] Baca Selengkapnya...

SAYA SANGAT PUAS DENGAN ISLAM

kholil misbach
Mengenang WS Rendra

JIKA ada agama yang sanggup memberikan kepuasan intelektual dan
spiritual kepada saya, agama itu adalah agama Islam. Saya berani
mengatakan demikian karena saya punya pengalaman memeluk banyak agama
dan bahkan pernah tidak beragama, dalam pengertian hanya percaya pada
adanya Tuhan Yang Mahakuasa!" ujar penyair Rendra, Senin malam (17/9)
membuka percakapannya dengan penulis di Hotel Setiabudi, Jln. Setiabudhi
Bandung.

Malam itu Rendra yang terlahir dengan nama Willibrordus Surendra Broto
Rendra tampak berseri-seri, sehat, dan awet muda. Daya humornya cukup
tinggi. Ia datang ke Bandung atas undangan Fakultas Pendidikan Bahasa
dan Seni (FPBS) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung bekerja sama dengan HU Pikiran Rakyat
Bandung untuk sebuah acara diskusi dan baca puisi, yang digelar Selasa
pagi (18/9) di universitas tersebut.

"Islam itu agama yang sempurna. Secara teologis kepuasaan saya terhadap
agama Islam itu; saya temukan dalam surah Al-Ikhlas.

Apa sebab saya berkata demikian? Sebab hanya agama Islamlah yang dengan
tegas mengatakan bahwa Allah SWT itu Maha Esa tidak beranak dan tidak
pula diperanakkan.

Keyakinan saya tentang ini tidak bisa ditawar lagi. Saya ikhlas memeluk
agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Saya bersyukur kepada
Allah SWT yang telah memberikan hidayah, rahmat, dan karunia-Nya kepada
saya untuk memeluk agama Islam," tutur Rendra, yang pada bulan Oktober
2007 mendatang bakal menerima gelar doktor honoris causa (HC) dari
Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta untuk bidang sastra.

Menyinggung soal sastra, dalam hal ini kesusastraan, Rendra mengatakan
bahwa kesusastraan adalah ekspresi yang mengungkapkan rahasia liku-liku
pikiran, batin, dan naluri manusia. Sejak Solon berkuasa di Athena,
beberapa abad sebelum Tarikh Masehi, orang Yunani purba menganggap bahwa
menguasai pemahaman kesusastraan berarti memiliki keunggulan pemahaman
manusia di dalam percaturan kepentingan dengan bangsa-bangsa lain.

"Kesadaran pendidikan bangsa seperti itu diadopsi oleh orang-orang
Romawi dan seterusnya oleh orang-orang Eropa di zaman awal pembentukan
kerajaan-kerajaan di Eropa. Bahkan, sampai saat ini dalam sistem
pendidikan Liberal Arts di dunia Anglo Saxon, kesusastraan menjadi inti
mata pelajaran," jelas penulis lakon "Panembahan Reso," sebuah lakon
drama yang berbicara tentang suksesi kekuasaan. Lakon ini pada zaman
Orde Baru nyaris tidak mendapat izin untuk dipentaskan, karena dinilai
menyinggung kekuasaan Presiden Soeharto, yang tumbang oleh gerakan
reformasi pada tahun 1998 lalu.

Di Tiongkok, kata Rendra lebih lanjut, sejak zaman dinasti Han di abad
kedua sebelum Tarikh Masehi, kesusastraan menjadi sumber pengetahuan
bangsa yang utama. Recruitment untuk birokrasi kerajaan diselenggarakan
melewati ujian pengetahuan para calon dalam bidang kesusastraan.
Kemudian tradisi ini diadopsi oleh Jepang dan Korea sejak zaman purba.

"Nah, bangsa-bangsa yang mengalami pendidikan kesusasteraan di dalam
pendidikan formal dan elementer, ternyata selalu unggul di dalam
percaturan kepentingan di dunia. Bangsa kita memang sudah mampu
melahirkan karya sastra tulis yang unggul sejak abad ke-10 Masehi.
Berarti lebih dulu dari beberapa bangsa di Eropa. Sayangnya, pendekatan
pemahaman ilmiah-analitis terhadap karya-karya kesusastraan terlambat
dikenal oleh bangsa kita. Sedangkan transfer budaya pemahaman karya
sastra secara modern itu terbata-bata, karena sistem penjajahan. Bangsa
kita dijajah oleh pemerintah Hindia Belanda yang tidak peduli mendirikan
pendidikan tinggi untuk ilmu sastra. Apa sebab? Karena mereka takut
bangsa yang tengah dijajahnya itu menjadi bangsa yang pintar dalam
berbagai bidang kehidupan," jelas Rendra yang pada 1964-1967 tinggal di
Amerika Serikat untuk belajar di American Academy of Dramatical Arts di
New York, sebuah sekolah drama terkenal hingga kini.

Sepulangnya dari Amerika Serikat, Rendra mendirikan Bengkel Teater di
Yogyakarta. Kelompok teater yang dikelolanya ini menjadi terkenal di
Indonesia dan bahkan ke mancanegara, karena apa yang dikreasinya pada
saat itu memunculkan idiom-idiom baru seperti yang diperlihatkannya
dalam pertunjukan teater "Bip-Bop" yang menggemparkan di awal tahun
1970-an.

Di bawah ini petikan percakapan "PR" dengan Rendra, baik mengenai
ketertarikannya terhadap agama Islam, sastra, maupun pendidikan seni.
Selain itu, saat ini ia telah menyiapkan kumpulan puisi terbarunya yang
diberi judul "Penabur Benih".

Sejak kapan Anda tertarik dengan agama Islam?

Sejak saya belajar drama di Amerika Serikat. Saya mengenal agama Islam
pada awalnya dari leaflet yang dibagi-bagikan oleh orang-orang black
Moslem. Saat itu saya baca surah Al-Ikhlas yang menggetarkan hati saya
secara teologis. Iman saya terguncang saat membaca surah tersebut.
Kegelisahan saya memuncak apalagi setelah saya membaca surah lainnya
seperti surah Al-Ma'un.

Surah Al-Ma'un?

Ya. Surah ini sungguh luar biasa, tidak hanya mengungkap soal hubungan
manusia dengan Tuhannya yang diekspresikan dalam ibadah salat, tetapi
juga berbicara soal pentingnya memerhatikan anak-anak yatim dan orang
miskin. Orang yang salat pun akan celaka bukan hanya karena ia lalai
dengan salatnya, tetapi juga karena ia menghardik anak yatim dan
melupakan orang-orang miskin.

Dalam konteks yang demikian itu manusia tidak hanya membangun hubungan
dirinya dengan Tuhannya, tetapi juga dengan sesama manusia.

Tentu saja surah-surah yang saya baca itu bukan dalam huruf Arab, tetapi
dalam terjemahan bahasa Inggris. Dengan adanya keyakinan bahwa Allah SWT
itu Esa, sebagaimana yang diungkap dalam surah Al-Ikhlas, seketika itu
saya meragukan agama yang saya anut dan memang sejak kanak-kanak saya
sudah meragukan agama yang saya anut. Jadi, dengan keraguan semacam itu
sesungguhnya saya tidak beragama, namun demikian saya tetap yakin akan
adanya Tuhan Yang Mahakuasa. Itulah yang saya maksud dengan tidak
beragama itu, sebelum saya memeluk Islam, meski getarnya sudah
mengguncang hati saya. Dalam keadaan kekosongan spiritual itulah saya
masih sempat memeluk agama lainnya di luar agama Islam dan Kristen
Katolik. Saya pernah memeluk agama Hindu dan Buddha, tetapi batin saya
tetap resah, tidak terpuaskan.

Begitu saya mantap dengan Islam, alhamdulillah jiwa saya semakin tenang.
Dalam konteks inilah saya menemukan kepuasaan baik secara intelektual
maupun secara spiritual.

Surah lainnya yang menggetarkan Anda ketika di Amerika, surah apa?

Surah Al-'Asr, surah ke-103. Dalam surah tersebut kita dihadapkan pada
soal pengelolaan waktu. Orang-orang yang merugi adalah orang yang tidak
bisa mengelola waktu dalam hidupnya di jalan kebaikan. Jalan kebaikan
saja tidak cukup. Ia ternyata harus beriman, beramal saleh, mengerjakan
kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati
untuk kesabaran.

Jadi, lewat surah-surah yang saya sebutkan tadi, sekali lagi saya
tegaskan bahwa Islam datang kepada saya lewat pemahaman intelektual dan
spiritual.

Pertanyaan-pertanya an filsafat yang saya ajukan selama ini terjawab
sudah. Subhanallah, saya tidak menyangka bisa sampai pada kenikmatan
hidup seperti sekarang ini. Sekarang masalahnya adalah tinggal bagaimana
saya mengucap rasa syukur saya kepada Allah SWT. Ini persoalan lainnya
yang harus saya aktualisasikan.

Apakah kegelisahan semacam itu terekspresikan dalam karya sastra yang
Anda tulis?

Ya. Pengembaraan intelektual dan spiritual yang saya rasakan hingga saya
puas dengan agama Islam itu, saya ekspresikan dalam sebuah puisi yang
saya beri judul "Suto Mencari Bapa". Puisi itu merupakan biografi saya.
Dalam larik penutup puisi tersebut saya cantumkan surah Al-Ikhlas.

Lepas dari soal agama Islam. Apa yang Anda lihat atas menurunnya minat
masyarakat dalam memperdalam seni tradisional di perguruan-perguruan
tinggi seni saat ini?

Dari sisi ekonomi hal itu sangat mudah kita lihat. Sekolah tinggi seni
kita hingga saat ini, diakui atau tidak, belum bisa menghasilkan uang.
Artinya, bila seseorang lulus sekolah teater atau tari, ketika terjun ke
lapangan ia belum bisa mendayagunakan apa yang dikuasainya itu bisa jadi
uang. Biaya produksi itu lebih besar daripada pendapatan yang dihasilkan
dari pementasan.

Nah, berkait dengan itu ada baiknya sekolah-sekolah tinggi seni tersebut
bila ingin tetap diminati masyarakat -- maka pemerintah harus
menggratiskan pendidikan seni bagi masyarakat yang meminatinya. Bahkan,
kalau mungkin kasih beasiswa hingga melanjutkan ke jenjang lebih tinggi
bila orang yang berminat memperdalam pendidikan seni tersebut hingga ke
luar negeri. Bengkel Teater tidak memungut biaya sepeser pun bagi mereka
yang ingin memperdalam ilmu teater di Bengkel Teater. Seharusnya sekolah
tinggi seni itu seperti itu.

Selain itu, tentu saja dewasa ini tantangan di dunia hiburan cukup
beragam, ketat, dan masing-masing memperlihatkan daya pesonanya. Orang
menggeluti seni tradisi dengan demikian harus mampu melahirkan
konsep-konsep seni baru sehingga apa yang dikreasinya itu bisa tetap
menawarkan daya pesona untuk diapresiasi. Di Jawa misalnya saat ini, apa
yang dikreasi oleh Slamet Gendono dengan pertunjukan wayang suket itu,
merupakan hasil dari daya kreasi Jawa Baru. Jadi, daya kreatif semacam
itulah yang dibutuhkan saat ini agar orang-orang tetap tertarik dengan
seni tradisi yang terus memperbarui darinya dari zaman ke zaman. (Soni
Farid Maulana)***


Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.

[+/-] Baca Selengkapnya...