Skip to main content

Posts

Balance antara jiwa dan raga

Oleh kholil Manusia hidup itu bukan hanya jasadnya, akan tetapi dengan ruh dan jiwanya. Jasad tanpa ruh adalah mayat yang harus dikuburkan secepatnya. Untuk itulah membangun itu perlu jiwanya terlebih dahulu baru jasadnya. Sungguh benar syair dari lagu kebangsaan kita indonesia raya terdapat kata "bangunlah jiwanya bangunlah badannya" jadi yang dibangun itu jiwanya terlebih dahulu. Pembangungan yang hanya menekankan pembangunan fisik itu seperti membangun rumah sakit, bentuknya mewah dan bersih tapi berisi orang-orang sakit. Indonesia dalam membangun juga harus demikian, harus membangun jiwa dan raga secara seimbang. Negara Asean yang pendapatan perkapitanya paling besar adalah singapura, walaupun demikian orang lanjut usia di negeri singa itu gemar bunuh diri. Angka bunuh diri warga lansia singapura melonjak tahun lalu, bahkan mencapai rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sebanyak 129 warga lansia mengakhiri hidup mereka tahun lalu. Sepanjang tahun 2016 ad...

Merubah kekurangan menjadi nilai tambah

Oleh Kholil Manusia sejatinya selalu berubah, kalau dia diam saja maka iapun akan berubah menjadi tambah umur dan tua. Cuma kadang ada yang berubah dari yang negatif menjadi positif, dari minus menjadi plus. Tapi ada juga yang memandang positif dengan kacamata negatif inilah yang perlu dihindari. Ada dua orang yang dipenjara di pinggir pantai, yang satu selalu melihat lumpur dan yang satu melihat bintang. Napi yang selalu melihat lumpur akan selalu termenung, melamun, susah gak bergairah, ia bagaikan orang mati sebelum dicabut nyawanya. Adapun orang yang selalu melihat bintang, ia akan mengejar cita-cita dan mimpinya tak peduli banyak aral melintang, badai menerjang, ombak menghantam, ia hanya fokus "ya opo carane" bagaimana caranya bisa sampai pulau bahagia dengan selamat bersama keluarganya. Segala kesulitan, tantangan jangan jadikan hambatan dan jalan untuk selalu mengeluh, tapi jadikan ia membuat diri kita menjadi baik, menjadi insan kamil. Saya ambil contoh cara...

Penghina Tuhan dituntut dua tahun

Dwi handoko hanya terdiam lesu di ruang sidang kemarin 26/7/2018 di surabaya. Mahasiswa salah satu PTS kesenian di surabaya itu dituntut dua tahun oleh JPU agung rokhaniawan. Dia dianggap telah menyebarkan informasi yang bisa menimbulkan permusuhan SARA. Ketua majlis hakim Hisbullah menasehati " makanya itu, kita harus meyakini tuhan itu yang maha kuasa, tidak usah lah berpikir sekuler kalau belum cukup ilmu. Dwi handoko dianggap telah merendahkan tuhan melalui tulisan yang diunggah ke media sosial tiga tahun lalu. Dalam tulisannya ia menyamakan Tuhan dengan dajjal. Menurut saya, ini merupakan pelajaran kita semua untuk arif dalam berkata maupun menulis, mulutmu adalah harimaumu, tanganmu merupakan pedangmu. Sebelum berkata maupun meulis hendaklah kita selalu berpikir terlebih dahulu dengan jernih. Wallahu A'lam

Untuk kita renungkan

PANDAI"LAH MENGHAYATI HIDU Kalau ingin _menangkap_ ayam, jangan *dikejar*, nanti kita akan *lelah* dan ayam pun maki RXn *menjauh*. Berikanlah ia _beras_ dan _makanan_, nanti dengan mudah ia *datang* dengan *rela_ ( Baca: Iri yang dianjurkan ) Begitupun *REJEKI*, melangkahlah dengan *BAIK*, jangan terlalu _kencang_ *mengejar*, _ngotot_ *memburu*, nanti kita akan merasa *lelah* tanpa *HASIL*.  Keluarkanlah _sedekah_, nanti *REJEKI* akan datang _menghampir_ tepat waktu. Kalau ingin *MEMELIHARA* kupu-kupu, Jangan *tangkap* _kupu-kupunya_ pasti ia akan *terbang*. Tetapi _tanamlah_ *bunga*​. Maka *kupu-kupu* akan *datang* dengan sendirinya dan *membentangkan* sayap-sayapnya yang *INDAH* Bahkan bukan hanya *kupu-kupu* yang _datang_, tetapi kawanan yang lain juga datang seperti _lebah_, _capung_ dan lainnya *menambah* warna warni _keindahan_ taman *BUNGA* kita Sama halnya dalam *KEHIDUPAN* di dunia ini. ​Ketika kita menginginkan​ *Kebahagiaan* n *Keberuntungan*, Tana...

FENOMENA ANTAGONIS AKHIR JAMAN

Oleh Gus Mus ● Banyak rumah semakin besar, tapi keluarganya semakin kecil. ● Gelar semakin tinggi, akal sehat semakin rendah ● Pengobatan semakin canggih, kesehatan semakin buruk. ● Travelling keliling dunia, tapi tidak kenal dengan tetangga sendiri. ● Penghasilan semakin meningkat, ketenteraman jiwa semakin berkurang. ● Kualitas Ilmu semakin tinggi, kualitas emosi semakin rendah. ● Jumlah Manusia semakin banyak, rasa kemanusiaan semakin menipis. ● Pengetahuan semakin bagus, kearifan semakin berkurang. ● Perselingkuhan semakin marak, kesetiaan semakin punah. ● Semakin banyak teman di dunia maya, tapi tidak punya sahabat yang sejati. ● Minuman semakin banyak jenisnya, air bersih semakin berkurang jumlahnya. ● Pakai jam tangan mahal, tapi tak pernah tepat waktu. ● Ilmu semakin tersebar, adab dan akhlak semakin lenyap ● Belajar semakin mudah, guru semakin tidak dihargai ● Teknologi Informasi semakin canggih, fitnah dan aib semakin tersebar. ● Orang yang...

Menjadi Shaleh di Luar Masjid

Oleh Kholil Misbah Masjid merupakan sebaik-baik tempat menurut Allah SWT, orang yang memakmurkan masjid berarti ikut memakmurkan rumah Allah, dan barang siapa merendahkan masjid berarrti menginjak-injak rumah Allah. Di rumah Allah itulah kalau kita singgah di dalamnya maka akan terasa nikmat, adem, ayem, teduh dan senang tak terkira. Untuk itulah menjadi Shaleh di dalam masjid itu biasa, karena lingkungan masjid itu sangat nikmat dan mudah untuk ibadah. Tapi shaleh di luar masjid selain juga shaleh di masjid, saat di pasar, saat bersama keluarga, saat berinteraksi dengan uang, saat sesrawungan atau berkumpul dengan tetangga kalau bisa menjaga kesolehannya itu baru luar biasa. Gak semua orang bisa shaleh di masjid dan di luar masjid, lebih parah lagi sudah gak shaleh di luar masjid tidak mau ke masjid ya..gak ada kesolehan sama sekali.

AGAR SUAP TIDAK MENGUAP

Oleh Kholil Misbach, Lc Belalakangan ini, kita dihebohkan dengan penangkapan Operasi tangkap Tangan (OTT) KPK terhadap kepala lembaga pemasyarakatan (KALAPAS) Suka miskin. Wahid Husain, b ahkan menurut Juru bicara KPK   Febri Diansyah menyampaikan permintaan mobil, uang dan barang lainnya oleh oknum petugas di Lapas SUka Miskin diduga dilakukan secara terang-terangan, tidak ada sandi atau kode terselubung, sangat terang. Termasuk sewa kamar dalam rentang 200-500 juta perkamar, minggu (22/7/2018) di Jakarta. Menurut saya bukan siapa yang ditangkap ataupun Lapas mana yang terlibat, lebih penting lagi kasus ini merupakan corengan bagi penegak hukum, kalau penegak hukumnya melanggar hukum lalu siapa yang mesti menegakkan hukum. Sebagai contoh seorang guru yang tidak bisa digugu dan tiru di kelasnya. Ia tidak hanya merugikan dirinya akan tetapi akan membuat contoh dan teladan buruk bagi anak-anak didiknya. Memang, Negara ini bukannya krisis ekonomi, bukan pula krisis po...