Dakwah berasal dari kata da'a yad'u da'watan yang berarti mengajak ke jalan Allah.
Buya Hamka menyatakan bahwa dakwah itu mengajak bukan mengejek, membina bukan menghina, mendidik bukan membidik, mengobati bukan melukai, mengukuhkan bukan meruntuhkan.
Dalam menjalankan dakwah kepada ajarran Islam seorang da'i banyak tantangannya. Tantangan tersebut bisa bersifat internal bisa bersifat eksternal. Adapun tantangan seorang dai dari dalam adalah penyakit tiga K yaitu:
A. Kurang ilmu
Kadang seorang dai kurang menguasai materi, banyak komentar tapi sedikit isi. Kalau seorang dai kurang ilmu ada dua kemungkinan ia jujur tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan audiense ataupun berbohong dengan menjawab sekenanya.
Untuk itulah sebelum tampil di depan umum, bahkan sebelum mengajar, seorang dai harus bisa mengeluarkan segala tenaga pikirannya untuk menimba dan mengoleksi ilmu yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.
Ilmu yang barakah itu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, orang yang tidak bisa mengambil manfaat ilmu bagaikan tanah bebatuan yang tidak bisa menyerap air dan tidak bisa mengalirkan.
seorang dai diharapkan punya rujukan ilmu atas apa yang ia sampaikan, tidak asal ngambil dari kyai google tanpa mengecek ulang apa yang ditulisnya tersebut.
B. Kurang ikhlas
Penyakit dai kedua adalah kurang ikhlas sehingga kadang kurang semangat berdakwah di lahan yang kurang subur, sedikit amplopnya, tidakbbanyak audiensnya dsb. Berat berkorban untuk agama ini.
Memang semua amal usaha kita, rumah tangga kita, kerja kita, mengajar kita kalau tidak didasari dengan Lillah pasti akan lelah. semakin ikhlas kita maka akan semakin semangat berbuat, lihatlah para Sahabat terdahulu bagaimana mereka berjuang dengan darah, harta bahkan nyawanya, mereka juga rela berjalan maupun berkuda ratusan kilo meter untuk memperjuangkan agama ini. Mengapa mereka tidak lelah, tidak loyo apalagi putus semangat? jawabannya adalah karena mereka mendasarkan semua yang mereka lakukan itu untuk Allah SWT.
C. Kurang membumi
Penyakit dai ketiga adalah kurang membumi, hanya manis di mimbar tapo prilakunya sangat jauh dari apa yang diajarkan. Ajaran islam hanya di mulut tanpa merasuk keyakinan apa ygbdiajarkannya.
Adapun secara eksternal dakwah pasti dibumbui dengan bunga-bunga dakwah, yaitu berupa ketidakpuasan dari beberapa pihak. Hal inilah yang menyebabkan kadang penolakan atas kedatangan dai, cemoohan bahkan rintangan yang berujung sengketa maupun perselisihan.
Dengan memahami tantangan dai ini diharapkan seorang dai tetap di jalan Allah yang lurus.
Inilah sekilas yang bisa kami sampaikan semoga bermanfaat bagi diri kami sendiri yang masih banyak kekurangan dan bagi saudara-saudara kami semoga bisa menjadi pribadi yang baik (shaleh) dan pribadi yang bisa memperbaiki (mushlih).. Amin
oleh: Kholil Misbach, Lc
Wallahu A'lam
Comments
Post a Comment
Silahkan Komentar Yg Positif